Tidak peduli seberapa dunia berubah, masih ada orang yang menjalani cinta murni dan indah di suatu tempat. Tema yang selalu ingin ditunjukkan oleh sutradara Yoon Seok Ho saat merencanakan seri "Musim" adalah cinta murni. "Musim Semi" juga merupakan kelanjutan dari tema ini. Seperti tunas muda yang menembus es setelah musim dingin yang panjang, seperti embun pagi di helai rumput yang menerima sinar matahari pagi yang jernih setelah malam yang panjang, kami ingin sekali lagi menggambarkan kisah cinta indah yang akan menyentuh hati orang secara mendalam dan memurnikan dunia. Seorang pria yang menjadi pulau karena takdir... dan seorang wanita seperti lautan yang memeluknya. Ada seorang pria yang selalu merasa kesepian di antara orang-orang. Diriku sekarang, diriku di masa lalu, diriku yang ingin kujadi, diriku sebagaimana aku terlihat... Siapakah diriku yang sebenarnya di antara mereka? Semuanya begitu kusut sehingga tidak mungkin untuk mengetahui dari mana harus memulai mengurainya, dan komunikasi menjadi semakin mustahil. Dia kemudian memutuskan untuk menyingkirkan emosinya dan hidup hanya dengan pikirannya. Saat itulah seorang wanita muncul di hadapannya yang, menyebut dirinya 'malaikat pelindung', perlahan-lahan mulai menyusupkan musim semi ke pulaunya yang tandus, sementara dia semakin menjadi pulau yang terisolasi di dunia. Cinta, obat yang menyembuhkan luka asli manusia dan memeluk jiwa yang rapuh. Setiap orang hidup dengan luka keputusasaan mereka sendiri. Drama "Waltz Musim Semi" adalah drama penyembuhan yang akan membangkitkan kekuatan cinta murni dan indah pada orang-orang modern yang kecewa. Cinta murni antara seorang pria dan seorang wanita, yang terbentang di tengah alam yang menerima segalanya dan keindahan musim yang tak berubah. Melalui kepekaan khas dan keindahan visual liris sutradara Yoon Seok Ho, "Waltz Musim Semi" sekali lagi akan membangkitkan nostalgia akan kemurnian yang telah kita kubur di lubuk hati kita.