Dipecat dari tempat kerja, sang protagonis pulang ke rumah dengan sedih. Istrinya, yang ditemui di depan rumah, sama sekali tidak memperhatikan suaminya, melainkan memarahinya dan membandingkannya dengan bos hanya karena dia tidak membawa darah. Sang protagonis minum di warung pinggir jalan dengan hati yang pilu. Saat itu, teman-temannya masuk ke warung, dan sang protagonis, terkejut dengan perubahan mereka, bertanya apa yang terjadi. Teman-temannya, yang mencuri darah dari rumah bos, menggoda sang protagonis untuk ikut mencuri darah bersama mereka, tetapi sang protagonis, karena kurang berani, menolak. Setibanya di rumah, sang protagonis merenungkan dirinya sendiri, menderita, dan membuat pilihan terakhir untuk mengubah hidupnya.