Hong Yi, yang ayahnya tunanetra, menyiapkan sarapan dan bahkan meletakkan lauk di atas nasi ayahnya. Hong Yi sepertinya ingin menjadi mata bagi ayahnya. Ayahnya juga mengkhawatirkan Hong Yi sehingga sering menjemputnya. Hong Yi tahu bahwa ayahnya akan selalu menjadi pelindungnya, tetapi dia tidak tahan melihat teman-temannya mengolok-olok ayahnya.