Geng Jae-gyu, yang terlibat dalam pertempuran sengit memperebutkan wilayah, tiba-tiba disergap dan terisolasi tanpa tempat bersembunyi atau dukungan dari organisasi mereka. Mereka menyusup ke sebuah kuil yang dihuni oleh para biksu yang mempraktikkan welas asih dan kebenaran, dan menetap di sana. Pertemuan tak terduga ini, yang membalikkan seluruh rutinitas mereka, mulai mengguncang biara pegunungan yang tenang. Para biksu, yang terpaksa menerima geng Jae-gyu yang datang tanpa diundang, merasa waktu seminggu yang dijanjikan terasa sangat lama, sementara para anggota geng, yang hanya menunggu kabar dari bos mereka, juga tidak merasa tenang. Untuk menghilangkan kebosanan dan kegelisahan hidup di kuil, kegiatan sehari-hari geng Jae-gyu terus-menerus mengganggu praktik para biksu, dan tindakan putus asa para biksu untuk mengusir mereka dan memulihkan kedamaian mengarah pada konfrontasi yang luar biasa. Permainan spektakuler dan menegangkan dengan format lima ronde dimenangkan oleh geng Jae-gyu, yang akhirnya mendapat izin untuk tinggal lebih lama di pertapaan. Kehidupan di biara pegunungan, dengan syarat menjalani kehidupan monastik yang sama seperti para biksu, memasuki fase baru. Kedua kelompok, yang emosi terpendamnya meledak, terlibat dalam konfrontasi tegang melalui perkelahian dan beberapa serangan. Mengikuti prinsip "siapa yang tidak bekerja, tidak boleh makan", kehidupan geng Jae-gyu, yang terbiasa hidup seperti tentara veteran, jatuh ke tingkat rekrutan baru. Praktik yang sinis, putus asa, dan penuh air mata dimulai kembali. Akankah para biksu dapat "mengucapkan selamat tinggal" kepada mereka dengan mudah?