Di sebuah desa pedesaan yang tenang dengan sawah bertingkat yang menghadap ke laut selatan yang indah, hiduplah Gibong, seorang lajang yang murni dan lugu yang kecerdasannya terhenti di usia 8 tahun meskipun usianya 40 tahun, karena demam tinggi di masa kecilnya. Hal yang paling Gibong cintai di dunia adalah ibunya, dan yang terbaik yang bisa dia lakukan adalah berlari. Karena ingin segera membawakan makanan yang didapatnya dari pekerjaan kecil di desa kepada ibunya, ia berlari pulang tanpa alas kaki. Melihat hal ini, penduduk desa memanggilnya 'Gibong Si Kaki Telanjang'.