Kisah ini berlatar tahun 1920, masa penjajahan Jepang. Bok-nyeo, putri sulung dari keluarga Yangban yang miskin namun bangga, dipaksa menikah dengan keturunan Yangban atas kehendak orang lain. Meskipun harus bekerja keras setiap hari untuk menyambung hidup, suaminya tidak kompeten, lesu, dan hanya penuh kesombongan. Mau tak mau, Bok-nyeo harus bekerja untuk menafkahi keluarga, namun tidak berjalan mulus. Berutang kepada tetangga sudah menjadi hal biasa, Bok-nyeo bahkan sampai menyamar menjadi pengemis dengan bayi yang tidak ada untuk meminta-minta. Suatu hari, datang kabar bahwa Pemerintahan Jenderal merekrut para wanita untuk pekerjaan pemberantasan hama ulat. Pengawas proyek memilih para wanita berdasarkan selera pribadinya, tidak terkait dengan kriteria kinerja...