Penulis terkemuka Lee Jun-seop (40 tahun) bergegas pulang ke kampung halamannya setelah menerima kabar kematian ibunya yang telah menderita demensia selama lebih dari lima tahun. Kematian nenek berusia 87 tahun itu membawa berbagai emosi bagi banyak orang. Terutama kakak iparnya, yang merawat ibu mertuanya yang menderita demensia, merasakan campuran antara kelegaan dan kesedihan. Sementara itu, reporter Jang Hye-rim, yang datang untuk menulis artikel yang meninjau kembali dunia sastra Jun-seop melalui pemakaman ibunya, sibuk meliput berbagai aspek pemakaman sebagai pengamat. Pemakaman dimulai, dan keretakan yang timbul seputar kematian sang ibu semakin dalam. Namun, seiring berjalannya upacara pemakaman, konflik keluarga perlahan terurai, dan Yong-sun, yang pernah membenci pamannya Jun-seop karena tidak merawat nenek, meneteskan air mata setelah membaca dongeng yang ditulis oleh Jun-seop. Setelah pemakaman selesai, anggota keluarga menyimpan cinta yang besar dan kebijaksanaan hidup yang ditinggalkan oleh almarhumah ibu mereka di dalam hati masing-masing.