Saya merenungkan hubungan ambigu antara seorang wanita dari daerah asal yang sama dan seorang pria dari kota lain. Mereka hanya menghabiskan waktu yang sangat singkat bersama, dan terpaksa bercakap-cakap tanpa henti. Situasi yang pada akhirnya tidak dapat mereka hadapi membuat mereka mengikuti pemandangan masa lalu, menempatkannya kembali dalam waktu. Apakah ini jejak pertemuan yang melawan arus kota, atau hanya momen pantulan yang sesaat diizinkan?