[Prolog: Dunia yang Bergumam, Bibir yang Terkatup] Suara-suara dunia selalu menjadi pecahan kebisingan yang tersebar dan gumaman tak berarti yang lolos dari alat bantu dengar. Setelah diintimidasi di kelas musik SMP, penari Go Ara sepenuhnya menghapus suaranya sendiri dan membungkam dirinya. [Variasi: Lagu Pertama Setelah 20 Tahun, Lagu Nenek] Suatu malam, sambil menepuk-nepuk punggung anaknya mengikuti irama tepukan tangannya sendiri. Ia dengan hati-hati membuka bibirnya demi sang anak. Itu adalah lagu pertama yang ia lantunkan ke dunia luar setelah 20 tahun, sebuah lagu nenek. Tanpa teknik atau nada yang sempurna, tetapi hanya dengan ketulusan yang tersalurkan melalui telapak tangannya, itu adalah musik yang luar biasa. [Resonansi: Kebisingan Menjadi Frekuensi Milikku] Komposer Lee Won Woo mengukir napas Go Ara yang tersebar menjadi irama yang belum pernah ada di dunia. Benturan frekuensi sengit dari dua seniman! Perasaan yang dibangkitkan oleh lagu nenek itu menggulingkan dunia Go Ara. Suara lantai yang berderit saat menghentak, gemerisik dedaunan yang bergoyang. Panggung yang intens dan avant-garde, di mana bahkan kebisingan yang tersebar pun ditinggikan menjadi seni, lahir dari irama unik yang hanya bisa ditenun oleh Go Ara. [Terbang: Gelombang Kehidupan yang Dipancarkannya Sendiri] Sang penari melemparkan seluruh tubuhnya ke frekuensi asing yang bisa ia gambarkan karena ia tidak bisa mendengar. Go Ara tidak lagi memaksakan gerakannya ke dalam musik dunia. Detak jantung yang intens dan membara ini, yang dimulai dengan lagu nenek setelah 20 tahun, akhirnya menerjang indra Anda yang tumpul. "Hadirin sekalian, apakah Anda mendengar musik saya sekarang?"