Pada suatu hari musim semi di tahun kedua sekolah menengah, guru sastra muda yang baru ditugaskan mengakhiri pelajaran lebih awal dan membacakan puisi. Namun, kata-kata guru itu hampir tidak terdengar olehku. Apakah karena cuaca yang sejuk membuatku mengantuk? Atau aku benar-benar tertidur? Anehnya, hanya jendela itu, yang disinari cahaya musim semi, terlihat jelas. Padahal bunga belum mekar. Begitu jarum kertas jatuh, aku sadar. Aku sedang menunggu orang itu.