Kisah romansa perjalanan waktu itu lumrah. Namun, yang membuat drama ini istimewa adalah orang yang kembali ke masa lalu bukan untuk memperbaiki hidupnya sendiri, melainkan untuk menyelamatkan hidup orang lain. Penggemar menyelamatkan bintangnya — drama ini membuktikan sejauh mana satu kalimat itu bisa berdampak sepanjang 16 episode. Awalnya, Im Sol hanya punya satu tujuan: "Menyelamatkan Sun-jae." Namun, Ryu Sun-jae yang ditemuinya di SMA tahun 2008 bukanlah seorang idola di atas panggung, melainkan anak laki-laki berusia sembilan belas tahun yang sedang berenang dan tertawa canggung. Di sinilah emosi sesungguhnya dari drama ini bermula. Sol pergi untuk menyelamatkan orang yang dikaguminya, tetapi malah jatuh cinta pada momen-momen biasa dalam hidupnya. Drama ini, melalui perangkat perjalanan waktu, menunjukkan secara tidak langsung bahwa menyukai seseorang sebenarnya berarti menghargai momen paling biasa dari orang tersebut, bukan hanya momen paling bersinarnya. Penemuan Byeon Woo-seok adalah peristiwa dalam karya ini. Perbedaan tatapan matanya yang membuat kita percaya bahwa idola Ryu Sun-jae dan Ryu Sun-jae yang masih SMA adalah orang yang sama, serta ketulusan yang membuat dialog "Jika kamu tersenyum, aku pun senang" tidak terdengar kekanak-kanakan. Kim Hye-yoon melakukan hal yang lebih sulit — memerankan keputusasaan dan keceriaan secara bersamaan tanpa membuat penonton lelah. Bukan kebetulan jika chemistry kedua orang ini menciptakan sindrom saat ditayangkan. Tentu saja, ada kritik bahwa lubang plot yang merupakan takdir dari cerita perjalanan waktu menjadi terlihat di paruh kedua, dan pengulangan kembali ke masa lalu menguras emosi. Meskipun demikian, emosi yang tersisa setelah menonton episode terakhir adalah kehangatan, bukan logika. Kisah tentang keinginan untuk menyelamatkan seseorang yang pada akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri. Itulah alasan mengapa drama ini membuat begitu banyak orang menangis di musim semi tahun 2024.