K-DramaAnyLang
당신의 언어로 만나는 K-콘텐츠

Sepuluh tahun berlalu dan aku masih belum bisa melupakan Pangeran Keempat — pasti bukan cuma aku

Sebelum bicara soal drama ini, aku harus mengaku dulu: aku sudah menontonnya tiga kali, dan ketiga kalinya aku menangis di episode terakhir. Padahal aku sudah tahu bagaimana akhirnya. Seorang perempuan dari abad ke-21 terlempar ke masa Dinasti Goryeo. Dan di antara para pangeran, ia justru menyerahkan hatinya pada laki-laki yang paling terluka dan paling kesepian: Wang So. Pria yang bahkan ditolak ibunya sendiri karena bekas luka di wajahnya. Melihat Lee Joon-gi memerankan tokoh ini, kita jadi paham betapa menakutkannya hal itu — ketika seseorang yang tak pernah dicintai tiba-tiba menjadi berharga bagi orang lain. Tatapannya kepada Hae-soo. Mula-mula waspada, lalu mulai percaya, dan akhirnya menjadi wajah seseorang yang tak bisa hidup tanpa orang itu — proses itu ditumpuk perlahan sepanjang dua puluh episode. Hae-soo yang diperankan IU juga bagus. Ia mulai sebagai gadis ceria dan berani, lalu sedikit demi sedikit terkikis oleh istana. Struktur ceritanya kejam: semakin keras ia berusaha mempertahankan cintanya, semakin banyak yang hilang darinya. Tapi justru kekejaman itulah yang membentuk emosi drama ini. Lalu Pangeran Kedelapan. Aku juga mengerti perasaan orang-orang yang menyukai Wang Wook-nya Kang Ha-neul. Betapa sakitnya menyaksikan orang yang paling lembut di awal justru yang pertama berubah. Drama ini benar-benar paham satu hal: siapa pun yang kaupilih, kau akan tetap terluka. Gambarnya pun indah. Nuansa liris khas sutradara Kim Kyu-tae, dedaunan merah dan istana yang tertutup salju, dan OST yang menimpa semua itu. Lagu "Geu Saram" dari Baek Ji-young atau lagu-lagu Davichi — sampai sekarang, begitu terdengar, adegannya langsung muncul di kepala. Ada drama yang musiknya memanggil kembali seluruh ingatan; ini persis seperti itu. Katanya saat penayangan, respons di Korea sendiri kurang menggembirakan. Tapi melihat bagaimana fandomnya justru terus tumbuh di luar negeri dan seiring waktu, aku rasa itu bukti bahwa emosi yang disentuh drama ini memang nyata. Kalau kau siap untuk terluka, tontonlah. Dan setelah selesai, kemungkinan besar kau juga akan memikirkan Pangeran Keempat untuk waktu yang cukup lama.