K-DramaAnyLang
당신의 언어로 만나는 K-콘텐츠

Yang tersisa bukan logika, tapi kehangatan

Jujur, awalnya aku nggak berniat menontonnya. Romansa perjalanan waktu — rasanya sudah cukup banyak yang kutonton. Tapi di sekitar episode 3, pertahananku runtuh. Ryu Sun-jae yang ditemui Im Sol setelah kembali ke masa lalu bukan idola yang kukenal. Dia cowok sembilan belas tahun yang seperti masih berbau kolam renang, yang senyumnya sedikit canggung. Di titik itu aku langsung paham drama ini mau bicara soal apa. Kalau kita bilang menyukai seseorang, yang sebenarnya kita genggam bukan momen paling gemerlap orang itu, melainkan momen-momen yang bukan apa-apa. Melihat Sol yang pergi untuk menyelamatkan Sun-jae malah jatuh cinta pada kesederhanaannya, aku jadi memikirkan lagi kenapa dulu aku menyukai hal-hal yang kusukai. Aku baru pertama kali melihat Byeon Woo-seok lewat drama ini. Sun-jae di atas panggung dan Sun-jae berseragam sekolah itu orang yang sama, tapi jelas terasa berbeda — dan perbedaan itu dia bangun hanya lewat tatapan mata. Kim Hye-yoon bahkan lebih hebat. Dia berlari mati-matian sepanjang cerita, tapi yang menonton tidak ikut kelelahan. Wajahnya sanggup memegang keceriaan dan keputusasaan sekaligus. Paruh akhirnya memang agak longgar. Ada saat aku berpikir "lagi?" ketika pengulangan waktu terus terjadi, dan begitu mulai mempersoalkan logikanya, lubangnya kelihatan. Tapi drama ini memang bukan tontonan untuk dipersoalkan. Setelah episode terakhir aku duduk diam cukup lama, dan yang tersisa bukan logika, melainkan kehangatan. Kisah tentang keinginan menyelamatkan seseorang yang pada akhirnya menyelamatkan diri sendiri. Kenapa semua orang begitu terhanyut pada musim semi tahun itu — aku baru mengerti setelah ikut terhanyut sendiri.